Rabu, 11 Desember 2013

Ahok Pun Berguru Ke PLN

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, melakukan kunjungan kerja ke kantor PLN Pusat-Jakarta Selatan, Rabu (11/12). Diterima langsung oleh Direktur Utama PLN, Nur Pamudji bersama Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi Anak Perusahaan PLN, Murtaqi Syamsuddin, Ahok pun langsung mempelajari sebuah sistem yang layak diterapkan dalam pengelolaan pajak Pemerintah DKI Jakarta secara online.
20131211-200027.jpgDi PLN, sistem ini sejak 2011 sudah diterapkan secara nasional dari Sabang hingga Merauke. Namun, implementasinya, sejak tahun 2007, PLN telah menjalankan sistem layanan pembayaran lintas batas yang dimaksud di Jawa Barat. Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi Anak Perusahaan PLN, Murtaqi Syamsuddin menjelaskan bagaimana PLN mengawasi dan mengelola sistem arus pendapatannya. Dulu, setiap pelanggan PLN harus rela mengantri panjang di loket-loket pembayaran untuk membayar rekening listrik PLN. Pada dasarnya, sistem lama ini berjalan manual sehingga audit harus dilakukan pada setiap titik baik di rayon, cabang, maupun kantor wilayah.
“Dulu, setoran di setiap titik selalu ada selisih, ada yang dirampok dijalan, ada yang ditilep oknum, dan sebagainya. Namun, setelah menerapkan sistem P2APST, kami bekerja sama dengan 58 Bank dan satu kantor pos, serta 10 perusahaan switching hulu dan 21 perusahaan switching hilir serta lebih dari 45 ribu operator loket, seluruh transaksi ke PLN dilakukan secara non cash,” kata Murtaqi menjelaskan.
Sistem P2APST ini merupakan sistem pembayaran tagihan listrik dan non tagihan listrik melalui online bank. “Kata kuncinya adalah terpusat. PLN bekerja sama dengan bank dan perusahaan switching terpusat, akses data tagihan listrik terpusat, pelimpahan dana pun secara terpusat yang dioperasikan secara terpusat,” ucapnya.
Menurutnya, seluruh jumlah pelanggan PLN yang mencapai 53 juta pelanggan melakukan transaksi secara online. Setidaknya PLN mencatat jumlah transaksi hingga 62,5 juta transaksi per bulannya terdiri dari transaksi pasca bayar, prabayar, dan semua transaksi non tagihan listrik.
“Melalui P2APST ini, PLN bisa mengawasi arus pendapatan yang mencapai Rp 14,5 triliun per bulannya atau Rp 174 triliun per tahun. Untuk mengelola itu semua, PLN mempunyai data center dan disaster recovery center dengan EXADATA yang memiliki kemampuan hingga 4000 transaction per second. Kami perkirakan sampai 5 tahun ke depan atau dengan penambahan100 juta pelanggan baru, data center ini masih kuat memfasilitasinya,” katanya.
Dengan sistem P2APST ini, lanjut Murtaqi, PLN mudah melakukan pelacakan saat terjadi dispute antara PLN dengan Bank. Transaksi pun lebih transparan dan akuntabel. Sistem ini pun dirancang dengan keamanan yang cukup tinggi, diantaranya menjamin bahwa yang dapat melakukan transaksi hanya yang memiliki hak akses. Juga menjamin kelengkapan informasi dan menjaga dari korupsi, kerusakan atau ancaman lain yang menyebabkan berubahnya informasi. Dan menjamin agar pengguna dapat mengakses informasi tanpa adanya gangguan, serta terjaminnya setiap transaksi adalah otentik karena hanya data center yang bisa mengeluarkan referensi code. pelanggan pun dapat melakukan kontrol dengan referensi code tersebut.
Melihat penjelasan Murtaqi, Ahok pun merasa takjub atas sistem yang telah dibuat PLN. “Terimakasih atas kebaikan hati PLN untuk berbagi. Jadi kita tidak usah ngeluarin uang banyak untuk belajar sistem tersebut. Rencananya, saya akan membuat sistem pajak online seperti itu. Pada sistem itu dibuat referensi code, sehingga wajib pajak atau oknum pegawai pajak tidak bisa lagi mendapatkan celah untuk menggelapkan pajaknya,” ujar Ahok.
Sebenarnya, kata Ahok, pemerintah DKI Jakarta sudah memiliki seluruh infrastruktur untuk sistem tersebut. Namun setiap lini di pemerintah propinsi, baik pihak pajak, kominfo, bank, maupun pemprov sendiri harus bisa melakukan reinforcement atas sistem dan mekanisme yang sudah dibentuk serta ada kemauan serta tekad manajemen atau komitmen dari masing-masing pucuk pimpinan.
“Sistem yang telah dibuat PLN ini sudah sangat hebat. Saya punya pengalaman membeli voucher listrik seharga Rp 3 juta. Namun voucher itu hilang entah terjatuh atau lupa nyimpen. Kemudian saya telepon call center PLN 123 dan diujung telepon itu memberitahukan lagi kode voucher listrik tersebut. Akhirnya voucher itu bisa digunakan kembali. Ini sungguh hebat. Voucher listrik itu bisa digunakan hanya untuk pelanggan itu saja. Hal-hal seperti ini akan memudahkan rakyat,” katanya

sumber : www.pln.co.id